(Bontang, 29 Maret 2016). Pemerintah Kota Bontang berkomitmen dalam pencegahan Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) pada perempuan dan anak yang ada di Kota Bontang. Salah satunya adalah dengan memberikan Pelatihan bagi Pelatih (TOT). Melalui pelatihan ini, pelatih atau pendamping diharapkan mampu meningkatkan kapasitas SDM, pelayanan dan pendampingan korban KDRT. Pelatihan ini diselenggarakan selama dua hari yakni, 28-29 Maret 2016  di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni hadir untuk membuka pelatihan. Meski berlangsung singkat, kehadiran Neni adalah bukti keseriusan Pemerintah dalam perlindungan dan pengawalan kepada masyarakat yang telah menjadi korban KDRT.

Dobi Rizami selaku Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga (BPPKB) menyampaikan, pada Tahun 2014 jumlah korban KDRT di Kota Bontang adalah 84 orang. Tahun 2015 jumlahnya meningkat, yakni mencapai 103 orang. Dalam situasi inilah keberadaan pendamping dinilai penting. Pendamping yang ahli dalam melakukan konseling, terapi, dan advokasi guna menguatkan dan memulihkan diri korban kekerasan.

Kegiatan yang  diusung oleh BPPKB Kota Bontang ini mengikutsertakan 25 peserta. Peserta pelatihan adalah Perwakilan Puskesmas, Rumah Sakit, KUA, P2TP2A, Kecamatan, Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Bontang, Polsek dan Polres. Untuk mewujudkan Kota Bontang yang bebas dari kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Pemkot Bontang mendatangkan beberapa narasumber, salah satunya adalah M. Rezfah Omar dari P2TP2A DKI Jakarta.

Dalam sambutannya, Neni menyatakan bahwa kegiatan ini adalah upaya aktif Pemerintah dalam usaha menzerokan KDRT di Kota Bontang. Penghapusan KDRT tidaklah mudah. Oleh karena itu, Neni menilai pencegahan pada tindakan KDRT sangat diperlukan. Baik melalui sosialiasi, maupun kegiatan lain sebagai antisipasi. Melalui kegiatan peningkatan SDM pelayanan dan pendampingan pada perempuan dan anak, Neni berharap rumah tangga dapat kembali harmonis dan utuh.

“KDRT adalah perbuatan yang menyengsarakan. Tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental. Dengan adanya pendampingan dan bantuan dari yang ahli, InsyaAllah yakin korban dapat menjadi kuat secara psikologis. Melalui kegiatan ini, saya berharap ilmu pendamping makin bertambah. Dibarengi dengan kepedulian dan tanggung jawab yang semakin besar sebagai pelatih sehingga dapat membantu masyarakat atau korban KDRT,” kata Neni.

Lebih lanjut Neni memaparkan beberapa penyebab terjadinya KDRT. Salah satunya adalah faktor ekonomi. Angka pengangguran di Kota Bontang yang sangat tinggi dinilai sebagai pemicu tindakan KDRT. Oleh karena itu, Neni menyampaikan rencananya untuk segera menjalankan program prioritas yang dicanangkannya yakni, melakukan pengembangan ekonomi mikro yang diharapkan mampu mensejahterakan masyarakat sekaligus berdampak pada penurunan kasus KDRT.

Bagian Humas-PPID Kota Bontang

Pemkot Bontang Serius Tanggapi Kasus KDRT